Melayani Pembuatan Media Pengajaran Berbasis Multimedia

RA. KARTINI DAN KERESAHAN BERAGAMA

Kekaguman terhadap sebuah agama pada manusia setiap saat akan naik turun. Pada titik tertentu ada rasa “muak” karena ajaran Kitab Sucinya berbahasa asing sehingga menyulitkan bagi orang yang tidak tahu bacaan maupun artinya. Kalaupun tahu cara membacanya tetapi tidak tahu maksud dan maknanya. Kondisi tersebut terjadi saat ini, betapa banyak orang yang belum bisa baca al Qur’an dengan huruf arabnya, begitupula semakin banyak oran yang bisa membaca al Qur’an sebatas “membaca” tetapi tidak paham akan maksud dan maknanya. Belum lagi ini diperparah dengan begitu banyaknya orang yang belajar “Islam” hanya sebatas belajar membaca al Qur’an saja. Belajar agama cukup dengan lulus Iqra’ jilid 1 – 6 dari Taman Pendidikan al Qur’an. Ketika hanya menamatkan TPA yang didapat seseorang hanyalah cara membaca al Qur’an secara mendasar, tetapi belum sampai pada mengetahui kandungan dan maksud al Qur’an.

Pada puncaknya banyak umat Islam keluar dari ajaran al Qur’an dan Sunnah karena ketidatahuannya atas “content” dan “spirit” ajarannya. Bila ini yang terjadi maka yang berkembang dalam diri umat Islam adalah memahami nilai-nilai islam berfokus pada nilai Mitos dan Ideologis, bukan nilai Islam sebagai Ilmu yang bisa dipraktekkan sehari-hari. Keprihatinan ini sebenarnya sudah berlangsung lama dirasakan oleh umat Islam sendiri dan terungkap diantaranya pernyataan RA Kartini. Dia menyatakan, "Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur'an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur'an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya." [surat kepada Stella, 6 Nov 1899].
Pernyataan yang perlu digaris bawahi sebenarnya pada kalimat akhir bahwa: Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur'an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya."

Keresahan ini berlanjut dengan pernyataan dalam surat kepada orang Belanda juga: "Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]



Keresahan ini mengukuhkan bahwa ketidaktahuan akan arti al Qur’an dan Sunnah yang notabene berbahasa Arab bisa membawa seseorang semakin malas untuk membaca dan mengkaji al Qur’an dan Sunnah. Pernyataannya sangat keras yang perlu digarisbawahi adalah: Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya.
Keresahan ini patut disyukuri karena RA Kartini tidak hanya menyampaiakan kepada orang Belanda saja tetapi disampaikan kepada seorang Kyai yaitu Kyai Sholeh Darat yang saat itu memberikan pengajian yang ”membumi” di kalangan ningrat di Kabupaten Demak. Setelah pengajian RA Kartini mengajak dialog dengan Kyai Sholeh Darat. Berikut kutipannya:

"Romo guru yang mulia," Kartini membuka maksud, "selama hidup saya, barulah kali ini ananda sempat mengerti makna surat al-Fatihah, induk al-Qur'an itu. begitu besar rasa syukur ananda kepada Allah SWT. namun sayang romo guru, ananda heran dan tak habis pikir, mengapa selama ini ulama kita belum menerjemahkan al-Qur'an dalam bahasa jawa? bukankah al-Qur'an merupakan petunjuk bagi segenap umat manusia?"

Kartini menarik napas dalam-dalam. suasana sunyi. Kiai Soleh Darat mendengar pertanyaan gadis pemberani itu.

"Teruskan anakku!", pancing Kiai Soleh Darat
"Jadi hemat saya, orang-orang jawa seperti saya perlu mengerti dan memahami isi kitab suci itu, terutama melalui jalan yang romo guru bentangkan tadi. apalagi ramanda saya (Bupati Jepara) ikut bersyukur atas minat ananda mendalami al-Qur'an"

"Baiklah, apakah ada pertanyaan lagi wahai anakku?" Kiai Soleh Darat masih menangkap gurat kegelisahan pada wajah kartini.

"begini romo guru, khusus tentang penerjemahan dan penafsiran al-Qur'an dalam bahasa jawa itu, apakah ada syarat-syarat bagi orang yang dianggap cukup sebagai ahli di bidang tersebut?"

"sungguh anakku Kartini, tidak sedikit bilangannya. syaratnya sungguh berat. antara lain, orang harus menguasai bahsa arab, yang khas dengan bahsa al-Qur'an lengkap dengan nahwu, sorof, badi', ma'ani, bayan, balaghah, istiarah, lengkap dengan keilmuan lainnya," terang Kiai Soleh Darat sambil tersenyum.

"tapi, bukankah romo guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? maka sekarang ananda mohon sudi kiranya romo guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya. nerupa kitab terjemahan dan tafsir al-Qur'an dalam bahasa jawa. sebab hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan kudus dari kitab tuntunan hidup mereka. dan, romo guru akan besar sekali jasanya."

Mendengar permintaan Kartini, raut wajah kiai tua itu berseri. seketika itu pula air mata Kiai Sholeh tumpah, menangis haru mendengar pinta perawan aristokrat itu.
Keresahan ini memberikan inspirasi bagi Kyai Sholeh Darat untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa secara tertulis. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.

Keresahan RA Kartini ini memberikan inspirasi bahwa masih banyak lahan kosong yang belum tergarap oleh Da’wah Islam (baik dilihat dari content, maupun ceruk pasar Da’wah). Selama ini umat Islam masih asyik pada ceruk pasar yang sudah ada sehingga justru yang muncul adalah perebutan lahan da’wah. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber.
Share:

Matra SBI Sekolah Berbasis Internasional Indonesia

Belakangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) menjadi semacam mantra baru untuk perbaikan mutu pendidikan Indonesia. Seakan-akan dengan menerapkan SBI mutu pendidikan akan terkerek ke arah lebih baik. Embel-embal internasional seakan-akan menjadikan sekolah Indonesia sejajar, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dengan sekolah-sekolah di belahan negara lain.
Maka sekolah-sekolah berlomba-lomba menerapkan sistem ini dan bagi yang belum mencapai akan mengarahkan seluruh sumber daya-nya ke arah sana. Aspek-aspek manajemen pendidikan seperti misalnya akreditasi, kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan sepertinya mengalami perbaikan mutu sebai implikasi adanya SBI.

Memang pelaksanaan SBI membawa implikasi terhadap aspek manajemen pendidikan/sekolah dan aspek tersebut masih perlu dibenahi. Beberepa aspek tersebut antara lain akreditasi, kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Setiap aspek dalam manajemen pendidi Sekolakan tersebut tentu saja memiliki standar mutu yang berbeda untuk menilai keandalannya. Aspek-aspek manajemen pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa SBI dapat dijadikan standar, hal ini tampak dari dasar pelaksanaannya.



Dasar pelaksanaan SBI yaitu Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, Pasal 50 ayat (3) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. PP no 19 tahun 2005 (Pasal 61 ayat 1) Pemerintah bersama-sama pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.
Sementara itu dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 dinyatakan bahwa untuk meningkatkan daya saing bangsa, perlu dikembangkan sekolah bertaraf internasional pada tingkat kabupaten/kota melalui kerjasama yang konsisten antara pemerintah dengan pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan, untuk mengembangkan SD, SMP, SMA, dan SMK yang bertaraf internasional.

Sementara itu pelaksanaan SBI tidak serta merta berjalan mulus, terdapat banyak krtitik terhadapnya. M. Fajri Siregar (Kompas, 8 April 2009) menyoroti bahwa pelaksanaan SBI menjadikan kurikulum dan materi pelajaran terkesan tidak terkontrol oleh pemerintah. Selain memakai kurikulum nasional, sekolah-sekolah nasional tersebut juga mengadopsi kurikulum internasional. Bahkan, pengajarnya lebih banyak warga negara asing, termasuk penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Selain itu berupa munculnya dampak panjang sosial budaya dan nasionalisme pada anak-anak Indonesia. Para siswa begitu minim pengetahuan sosial dan budaya Indonesia, nilai-nilai historis dan nasionalisme, serta sikap individualisme yang begitu tinggi. Kurikulum sekolah menyiapkan mereka sebagai warga dunia atau sebagai komunitas internasional, sebaliknya nilai-nilai keIndonesiaan tidak ditanamkan.

Kecaman keras bahkan muncul dari HAR Tilaar (Kompas, 8 April 2009) bahwa sikap pemerintah yang telah berperan besar bagi menjamurnya sekolah-sekolah tersebut. Pemerintah belum memiliki landasan hukum yang jelas bagi penyelenggaraan sekolah nasional plus ini. Menurutnya, itu berarti pemerintah tidak percaya terhadap sistem pendidikannya sendiri, yaitu pendidikan nasional yang bisa bersaing secara global dengan negara lain.

Kebijakan pemerintah justru mendorong bermunculannya sekolah-sekolah negeri bertaraf internasional dan berbiaya besar ini. Seharusnya pemerintah memperkuat sistem pendidikan sendiri, bukan sebaliknya menciptakan sistem pendidikan berkelas-kelas yang akan menciptakan bom sosial kelak di kemudian hari,

Paparan di atas memperlihatkan bahwa masih terdapat sisi-sisi lemah atau masalah-masalah dalam penyelenggaraan SBI dan tentu saja memiliki implikasi terhadap manajemen sekolahnya. Matra SBI Sekolah Berbasis Internasional Indonesia
Share:

RSBI atau Komoditi Pendidikan

Pengggunaan Bahasa Inggris dalam pembelajaran menjadikan Diknas Surabaya akan mengganti guru MIPA yang tidak menguasai bahasa itu (Kompas, 15/1/2009). Kebijakan Diknas Surabaya kontraproduktif dengan program sertifikasi guru. Istilah Guru profesional dalam proses sertifikasi adalah guru yang menguasai bidang ilmu yang diajarkan. Penguasaan bahasa asing tidak masuk dalam variabel profesional, walaupun mungkin penting.

Walapaun kurikulum RSBI masih dipertanyakan (Kompas, 20/1/2009), program ini terus bergulir. Berbeda dengan SMP dan SMA yang menggunakan kurikulum dari Cambridge University Inggris, kurikulum SD berasal dari Depdiknas, tentu saja Bahasa Inggris mewarnai. J. Drost (2000) pernah mengkritik dengan tajam pembelajaran bahasa asing di Indonesia. Beliau mengatakan, bahwa orang Belanda mengerti bahwa amat penting menguasai beberapa bahasa asing, karena bahasa Belanda jarang dipakai di dunia internasional. Namun di Nederland tidak ada pengajaran bahasa asing di SD. Hanya di SMP dan SMA. Akan tetapi lulusan sekolah menengah di negara itu mengerti Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Belanda. Hasil ini dicapai oleh karena lulusan SD menguasai Bahasa Belanda. Mustahil belajar bahasa asing kalau belum menguasai bahasanya sendiri. Unsur ini merupakan masalah pokok di Indonesia.


Sekolah bertaraf internasional adalah istilah rancu dan menunjukkan bagaimana bangsa ini sebenarnya minder berdampingan dengan bangsa-bangsa lain. Hasil-hasil pengukuran dan penelitian lembaga-lembaga dunia menempatkan paling akhir posisi kualitas pendidikan diantara bangsa lain. Jarang sekali mengukur kualitas pembangunan manusia suatu bangsa dari kemampuan berbahasa asingnya, paling-paling kemampuan membaca. Cakupan pembangunan sumber daya manusia (human capital invesment) ini meliputi pendidikan dan latihan, kesehatan, gizi, penurunan fertilitas, dan pengembangan enterpreneurial – yang semuanya bermuara pada peningkatan produktivitas manusia.

Mutu pendidikan perlu ditingkatkan karena rendah dan RSBI dijadikan alat untuk mendongkrak. Cara mendongkraknya dengan seolah-olah bangsa dan kualitas pendidikan kita sudah sejajar dengan bangsa lain dengan label bertaraf internasional. Toch, kalau memang benar-benar mau bertaraf internasional ada beberapa variabel internasional yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan suatu negara, bukan sekedar pengukuran yang bersifat hanya memperkuat posisi pangsa pasar semata-mata.

Variabel pengukuran yang massif menjangkau masyarakat luas, tidak sekedar penguatan posisi pangsa pasar, misalnya Human Development Index (HDI). Rangking semua negara menurut HDI terdiri atas 3 tujuan atau produk pembangunan, yaitu: (1) usia panjang yang diukur dengan tingkat harapan hidup; (2) pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jumlah orang dewasa yang dapat membaca; dan (3) penghasilan yang diukur dengan pendapatan per kapita riil yang telah disesuaikan, yaitu disesuaikan menurut daya beli mata uang masing-masing negara dan asumsi menurunnya utilitas marginal penghasilan dengan cepat.
Pendidikan Budi Pekerti Dan Komodifikasi Pendidikan

Pendidikan adalah wahana atau alat saja. Sebagai alat, pendidikan diabdikan kepada sebuah atau beberapa tujuan. Dalam tujuan terkandung visi dan misi. Di sinilah terjadi medan perebutan pengaruh dari berbagai kekuatan lengkap dengan ideologinya. RSBI tentu saja tidak bisa mengelak dari medan perebutan. Motif dibelakang perebutan menjadi amunisi pendorong penentu warna pendidikan, apakah pendidikan akan diabdikan untuk kepentingan sesaat atau untuk pemuliaan manusia.
Apapun motif dibelakang penyelenggaraan RSBI, ingin berdiri sejajar dengan bangsa lain atau penguatan posisi pasar (motif ekonomi), mestinya tetap tidak menjadikan kualitas budi pekerti terjun bebas. Budi pekerti artinya watak, perangai, akhlak, atau perilaku. Pendidikan budi pekerti merupakan penanaman nilai-nilai ke dalam budi orang. Nilai-nilai budi pekerti pada model RSBI rentan minim terjadi sebab target utamanya adalah internasionalisasi pendidikan, bahkan sangat dimungkinkan menjangkau sampai komodifikasi (comodification) pendidikan. Komodifikasi merupakan proses transformasi yang menjadikan sesuatu menjadi komoditi atau barang untuk diperdagangkan demi mendapatkan keuntungan. Jika tidak hati-hati sistem RSBI akan terjebak dalam komodifikasi tersebut.

Masyarakat Surabaya diminta hati-hati dengan sekolah yang mengklaim bersatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Masyarakat sebaiknya mengecek daftar seolah sejenis di Dinas Pendidikan Surabaya, demikian dikatakan Kepala Diknas Surabaya (Kompas, 22/1/2009). Pemberitaan RSBI di harian ini dilakukan berturut-turut pada Januari ini, diluar UU BHP. Situasi yang terbentuk di masyarakat karena adanya RSBI menjadi satu tanda bahwa satu sisi ada lembaga pendidikan yang memanfaatkan status RSBI untuk mendongkrak jumlah peserta didiknya. Diknas Surabaya melakukan pembenaran, bahwa sekolah dengan RSBI memiliki kualitas pendidikan lebih baik, itu sisi lainnya.



Pembenaran dan pemberangusan sekaligus telah dilakukan oleh Diknas Surabaya. Pembenaran bahwa sekolah yang mesti prioritas mendapat peserta didik, padahal berapa jumlah sekolah yang mau di RSBI. Sekolah lain non-RSBI dicurigai akan membawa korban (penipuan). Alih-alih meyelesaikan persoalan persoalan pendidikan; pemerataan pendidikan, perbaikan kesejahteraan GTT, mutu pendidikan di daerah terpencil atau transisi menuju pemberlakuan BHP.
Pendidikan perlu menempatkan manusia atau warga masyarakat dalam kedudukan sentral, dan menempatkan lingkungan sebagai satu sistem dengan manusia sebagai pusatnya. Pendidikan merupakan agen perubahan sosial, terutama bagaimana memandang dan memperlakukan manusia. RSBI akan menjadi satu lembaga dengan kepentingan ekonomi semata-mata, bukan institusi pendidikan, jika tidak melihat manusia sebagai makhluk mulia penuh budi pekerti. Makhluk yang mengerti bahwa kesenjangan ekonomi telah menjadikan rakyat miskin tidak bisa sekolah, makhluk dengan sikap intelektual dan emosional baik, dan makhluk yang memiliki spiritualitas baik.
RSBI juga akan menjadi satu agen sosial bermasalah sebab meniadakan kualitas sekolah-sekolah lain, diluar RSBI. Meniadakan institusi lain dalam lingkungannya sama dengan menghilangkan manusia sebagai pusat sistem. Komponen manusia sengaja dihilangkan dan digantikan pertimbangan ekonomi semata-mata.

Tampaknya program RSBI ini akan terus berjalan. Paling tidak ada beberapa catatan pengiring untuk tetap menjadikan pendidikan berjalan pada koridor memanusiakan manusia. Pertama, kualitas pendidikan menentukan ketinggian nilai kemanusiaan yang ada, maka pengukurannya pun tidak lepas dari sisi kemanusiaannya. Kedua, pendidikan budi pekerti hendaknya tidak tercerabut dalam sistem internasional ini. Budi pekerti yang berakar dari nilai-nilai dan kearifan lokal. Dan ketiga, jerat komodifikasi pendidikan semestinya dikubur dalam-dalam.
Share:

Cengkeraman Liberalisasi Pendidikan

Pembiayaan pendidikan Indonesia memiliki sejarah panjang, sepanjang keberadaan Indonesia sebagai sebuah negara. Sejarah pembiayaan pendidikan Indonesia dapat dilacak dari awal kemerdekaan sampai sekarang. Secara diaspora pembiayaan pendidikan dapat dilacak jauh sebelum masa kemerdekaan, masa terbentuknya Indonesia sebagai sebuah negara. Masa-masa kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia dikenal berbagai pusat pendidikan, Sriwijaya dan Majapahit memiliki sistem pendidikan yang bahkan menjadi magnet sehingga didatangi pelajar dari luar negeri.

Masa kerajaan Islam pendidikan bercorak pesantren menjadi salah satu lokomotif perubahan sosial masyarakat. Kerajaan Demak, Ternate, Tidore, Samudera Pasai, dan Mataram Islam pada masanya merupakan kerajaan yang bercorak Islam dan kebanyakan pemimpinnya merupakan produk pendidikan ala Islam, pesantren. Pendudukan Belanda dan Jepang (termasuk Inggris dan Portugal) juga memberikan warna pada tahap-tahap konsolidasi pendidikan Indonesia. Tilaar (1995:3) menyatakan bahwa tumbuhnya pendidikan nasional bersama-sama dengan bangkitnya rasa nasional bangsa Indonesia, praktek pendidikan kolonial yang dengan jelas ingin memperbodoh rakyat Indonesia, dan pendidikan pada masa pemerintahan militerisme Jepang. Ketiga episode pendidikan nasional tersebut masing-masing memberi warna terhadap tumbuhnya pendidikan nasional sejak proklamai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Perubahan dan pembentukan identitas pembiayaan pendidikan Indonesia, seperti dikemukakan di atas, menyesuaikan semangat jamannya. Pembiayaan pendidikan mulai terintegrasi selepas terbentuknya negara Indonesia. Departemen yang menangani pendidikan khusus dibentuk, awal terbentuknya departemen ini menjadi alat integrasi pembiayaan pendidikan secara nasional. Ki Hadjar Dewantara yang menjadi menteri Departemen Pendidikan-nya banyak memberikan warna bagi perjalanan pendidikan, khususnya pembiayaan pendidikan, Indonesia pada masa-masa selanjutnya.

Peran negara selepas terbentuknya negara Indonesia dan Departemen Pendidikan mulai tampak dalam kehidupan bermasyarakat. Dinamika masyarakat dalam pembiayaan pendidikan mulai dapat dipilah antara negara sebagai penyelenggara pendidikan dan masyarakat sebagai salah satu unsur penopangnya. Berbeda pada masa sebelum kemerdekaan, dimana pendidikan menjadi tanggung jawab rakyat secara utuh. Respon dan dinamika rakyat terhadap pembiayaan pendidikan Indonesia setiap masanya berbeda. Arus kebijakan negara membawa implikasi terhadap pembiayaan pendidikan Indonesia, termasuk didalamnya arus perubahan dunia juga tidak sedikit membawa dampak tidak sedikit terhadap pembiayaan pendidikan Indonesia.

Pembiayaan pendidikan yang dinamis seperti diungkapkan di atas memiliki keterkaitan yang erat dengan sektor ekonomi. Pengaruh sistem pembiayaan pendidikan dapat dilacak melalui tingkat, struktur, dan sifat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi oleh Goulet (Todaro, 1994:142) memiliki tiga inti, yaitu kebutuhan pangan yang berkelanjutan (life sustenance), harga diri (self-esteem), dan kemerdekaan (freedom). Makna dari pertumbuhan ekonomi tersebut, dilihat dari sektor pembiayaan pendidikan berupa: (a) apakah taraf pendidikan masyarakat Indonesia telah terdapat perbaikan dalam tingkat dan kualitas pendidikan?; (b) apakah pembiayaan pendidikani itu telah mengangkat derajat dan martabat manusia Indonesia sebagai pribadi atau kelompok masyarakat secara keseluruhan baik antara mereka sendiri maupun dalam hubungannya dengan bangsa atau negara lain?; dan (c) apakah pembiayaan pendidikan itu telah memperluas keanekaragaman pilihan manusia Indonesia dan membebaskan mereka dari belenggu ketergantungan pada pihak luar dan dari perbudakan intern pada orang lain atau lembaga-lembaga tertentu, ataukah kemajuan itu hanya merupakan suatu bentuk pengantian ketergantungan?
Secara spesifik pembiayaan pendidikan memiliki dampak perluasan Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi, ketidakadilan, dan kemiskinan. Pengaruh sebaliknya dari dampak pembiayaan pendidikan oleh Todaro (1994:414) disebabkan karena sasaran pokok
pembangunannya adalah memaksimalkan peningkatan angka pertumbuhan. Akibatnya, pengaruh pendidikan atas distribusi pendapatan dan penanggulangan kemiskinan absolut banyak diaaikan. Silang sengkarut sistem pendidikan di negara-negara sedang berkembang justru meningkatkan dan bukannya menurunkan ketidakadilan pendapatan. Saling keterkaitan antara negara-negara lain juga memiliki implikasi terhadap persoalan ini, terutama arus deras globalisasi dan munculnya teknologi-teknologi baru.



Teknologi baru – mikroelektronik, komputer, telekomunikasi, materi buatan, robotik, dan bioteknologi – saling berinteraksi secara sinergi untuk mendukung pembentukan masyarakat dengan sistem ekonomi baru yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya (Zuhal, 2003:3). Perubahan struktur ekonomi dunia, mau tidak mau menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan Indonesia tidak bisa melepaskan diri terhadap situasi itu, termasuk pendidikan sebagai transmisinya. Maka, memahami ilmu pengetahuan Indonesia harus mengkaitkannya dengan situasi global (Dawam Raharjo, 1982:12). Situasi global yang didalamnya bertumpuk berbagai kepentingan dan didalamnya penuh pergulatan. Todaro (1994:43) menyatakan bahwa kehidupan ekonomi di negara-negara sedang berkembang tidak dapat dihindarkan dari keterikatannya dengan kehidupan sosial, politi, dan kebudayaan, sehingga sistem sosial di suatu negara berkaitan erat dengan sistem sosial dunia secara keseluruhan: yakni pengorganisasian dan pengaturan perilaku ekonomi secara global.

Kecenderungan pengembangan ilmu pengetahuan global yang semakin kuat memperlihatkan adanya kesamaan persepsi dalam memilih bidang ilmu dan memberikan prioritas kepadanya. Prioritas yang diberikan oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan hampir sama karena tempaknya penguasaan bidang penting itulah yang akan memberikan peluang besar kepada mereka untuk tetap berada di garis terdepan dalam memajukan negara industrinya.

Kekuatan negara-negara maju – hampir seluruhnya mereka merupakan pengerak utama arus struktural global – itu yang menjadikan negara dunia ketiga hanya sebagai negara industrialisasi pinggiran. Mas’oed (2002:2) menyebutkan, bahwa keadaan yang menjadikan negara dunia ketiga mengalami ketidakstabilan di tengah dominasi negara maju dikarenakan: pertama, penciptaan dan pengintegrasian ekonomi global di bawah hegemoni kapitalis; kedua, perubahan teknologi yang sangat cepat; dan ketiga, konsentrasi pemilikan uang dan kapital oleh si kaya dan si kuat.
Derasnya arus struktural global membawa dampak keputusan-keputusan yang dilakukan suatu negara. Keputusan-keputusan dalam sektor pendidikan juga tidak bisa melepaskankan diri dari kepentingan arus global tersebut, termasuk didalamnya pembiayaan. Siapakah yang sesungguhnya pemegang riil ilmu pengetahuan atas arus gerak struktural dunia?

Banyak jawaban yang dapat diberikan. Ada yang menyebut negara tertentu, ada yang menyebut menuju kecenderungan unit-unit sosial terkecil, dan ada yang memberikan jawaban konglomerasi global transnasional (TNCs/MNC) di bawah kendali globalisasi. Perkembangan ilmu pengetahuan telah mendorong masyaraat dunia menjadi sebuah kampung global dan terciptanya tatanan ekonomi global. Pendidikan dan pembiayaan pendidikan juga mengalami pergeseran-pergeseran sebagai upaya adaptif. Pembiayaan pendidikan tidak sekedar lokal negara, sekarang telah melintasi batas-batas negara. Pendirian perguruan tinggi asing di Indonesia menunjukan operasi pembiayaan pendidikan atas kendali arus struktural global.
Share:

PEMERINTAH, KRITIK DAN DEFENSE MECHANISM

Saat ini, Pemerintahan SBY sibuk menangkis sesuatu yang kritis. Hal itu dimulai ketika ramainya Kasus Century. Penangkisnya tidak cukup juru bicaranya saja bahkan staf ahli presiden yang bukan bidangnya turut bicara. Seperti Andi Arief yang semestinya staf ahli presiden bidang bencana "turut serta" mengamankan pemerintahan majikannya. Semestinya staf ahli tersebut bekerja untuk menanggulangi bencana alam dan semacamnya, tetapi mengurusi yang bukan bidangnya. Lupalah pekerjaan utamanya, sehingga yang terkena bencana tetap saja menderita. Justru yang cepat bertindak atas bencana masyarakat adalah lmbaga masyarakat semacam PMI, media massa, dan lmbaga sosial lainnya. Pemerintah sangatlah terlambat, karena terlalu asyik dengan urusan politik.

Belum selesai tetang masalah tersebut, pemerintah disbut tukang bohong oleh Tokoh Agama dan Pemuda. Para tokoh menyebut 18 kebohongan pmrintahan SBY. 9 Kebohongan lama yang dicatat para aktivis yaitu: Pertama pemerintah mengklaim bahwa pengurangan kemiskinan mencapai 31,02 juta jiwa. Padahal dari penerimaan beras rakyat miskin tahun 2010 mencapai 70 juta jiwa dan penerima layanan kesehatan bagi orang miskin (Jamkesmas) mencapai 76,4 juta jiwa. Kedua, Presiden SBY pernah mencanangkan program 100 hari untuk swasembada pangan. Namun pada awal tahun 2011 kesulitan ekonomi justru terjadi secara masif. Ketiga, SBY mendoronga terobosan ketahanan pangan dan energi berupa pengembangan varietas Supertoy HL-2 dan program Blue Energi. Program ini mengalami gagal total. Keempat, Presiden SBY melakukan konferensi pers terkait tragedi pengeboman Hotel JW Mariot. Ia mengaku mendapatkan data intelijen bahwa fotonya menjadis asaran tembak teroris.

Ternyata foto tersebut merupakan data lama yang pernah diperlihatkan dalam rapat dengan Komisi I DPR pada tahun 2004. Kelima, Presiden SBY berjanji menuntaskan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir sebagai a test of our history. Kasus ini tidak pernah tuntas hingga kini. Keenam, UU Sistem Pendidikan Nasional menuliskan anggaran pendidikan harus mencapai 20% dari alokasi APBN. Alokasi ini harus dari luar gaji guru dan dosen. Hingga kini anggaran gaji guru dan dosen masih termasuk dalam alokasi 20% APBN tersebut. Ketujuh, Presiden SBY menjanjikan penyelesaian kasus lumpur Lapindo dalam Debat Calon Presiden Tahun 2009. Penuntasan kasus lumpur Lapindo tidak mengalami titik temu hingga saat ini. Kedelapan, Presiden SBY meminta semua negara di dunia untuk melindungu dan menyelamatkan laut. Di sisi lain Presiden SBY melakukan pembiaran pembuangan limbah di Laut Senunu, NTB, sebanyak1.200 ton dari PT Newmont dan pembuangan 200.000 ton limbah PT Freeport ke sungai di Papua. Kesembilan, tim audit pemerintah terhadap PT Freeport mengusulkan renegosiasi. Upaya renegosiasi ini tidak ditindaklanjuti pemerintah hingga kini.

Aktivis juga menyebut 9 kebohongan baru, yaitu: Pertama, dalam Pidato Kenegaraan 17 Agustus 2010 Presiden SBY menyebutkan bahwa Indonesia harus mendukung kerukunan antarperadaban atau harmony among civilization. Faktanya, catatan The Wahid Institute menyebutkan sepanjang 2010 terdapat 33 penyerangan fisik dan properti atas nama agama dan Kapolri Bambang Hendarso Danuri menyebutkan 49 kasus kekerasan ormas agama pada 2010. Kedua, dalam pidato yang sama Presiden SBY menginstruksikan polisi untuk menindak kasus kekerasan yang menimpa pers. Instruksi ini bertolak belakang dengan catatan LBH Pers yang menunjukkan terdapat 66 kekerasan fisik dan nonfisik terhadap pers pada tahun 2010. Ketiga, Presiden SBY menyatakan akan membekali Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dengan telepon genggam untuk mengantisipasi permasalahan kekerasan. Aksi ini tidak efektif karena di sepanjang 2010, Migrant Care mencatat kekerasan terhadap TKI mencapai 1.075 orang. Keempat, Presiden SBY mengakui menerima surat dari Zoelick (Bank Dunia) pada pertengahan 2010 untuk meminta agar Sri Mulyani diizinkan bekerja di Bank Dunia. Tetapi faktanya, pengumuman tersebut terbuka di situs Bank Dunia. Presiden SBY diduga memaksa Sri Mulyani mundur sebagai Menteri Keuangan agar menjadi kambing hitam kasus Bank Century. Kelima, SBY berkali-kali menjanjikan sebagai pemimpin pemberantasan korupsi terdepan. Faktanya, riset ICW menunjukkan bahwa dukungan pemberantasan korupsi oleh Presiden dalam kurun September 2009 hingga September 2010, hanya 24% yang mengalami keberhasilan. Keenam, Presden SBY meminta penuntasan rekening gendut perwira tinggi kepolisian.



Bahkan, ucapan ini terungkap sewaktu dirinya menjenguk aktivis ICW yang menjadi korban kekerasan, Tama S Langkun. Dua Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Jenderal Timur Pradopo, menyatakan kasus ini telah ditutup. Ketujuh, Presiden SBY selalu mencitrakan partai politiknya menjalankan politik bersih, santun, dan beretika. Faktanya Anggota KPU Andi Nurpati mengundurkan diri dari KPU, dan secara tidak beretika bergabung ke Partai Demokrat. Bahkan, Ketua Dewan Kehomatan KPU Jimly Asshiddiqie menilai Andi Nurpati melakukan pelanggaran kode etik dalam Pemilu Kada Toli-Toli.Kedelapan, Kapolri Timur Pradopo berjanji akan menyelesaikan kasus pelesiran tahanan Gayus Tambunan ke Bali selama 10 hari. Namun hingga kini, kasus ini tidak mengalami kejelasan dalam penanganannya. Malah, Gayus diketahui telah sempat juga melakukan perjalanan ke luar negeri selama dalam tahanan.

Kesembilan, Presiden SBY akan menindaklanjuti kasus tiga anggota KKP yang mendapatkan perlakuan tidak baik oleh kepolisian Diraja Malaysia pada September 2010. Ketiganya memperingatkan nelayan Malaysia yang memasuki perairan Indonesia. Namun ketiganya malah ditangkap oleh polisi Diraja Malaysia. Sampai saat ini tidak terdapat aksi apapun dari pemerintah untuk nmenuntaskan kasus ini dan memperbaiki masalah perbatasan dengan Malaysia.
Kedelapan belas kebohongan ini tidak dijawab dengan tindakan dan langkah kongkrit tetapi justru menampik kebenaran. Kritik dijawab dngan defense mechanism, kritik dibalas dengan kritik yang tidak menjawab substansi masalah. Bahkan orang yang semestinya tidak menanggapi kritikan, ikut-ikutan mengkritik balik tokoh agama sebagai gagak hitam dengan pernyataan tokoh lintas agama yang menyebut Presiden Yudhoyono melakukan kebohongan, sebagai gagak hitam pemakan bangkai yang tampak seperti merpati berbulu putih.

Media sebagai alat penyampaian informasi itu kena getahnya karena dengan penambahan visualisasi fakta 18 kebohongan tersebut. Terutama media yang sering menyuarakan fakta kebenaran diancam oleh orang yang semestinya tidak menanggapi kritikan. Orang tersebut mengancam akan melakukan boikot terhadap media yang selalu memberitakan keburukan pemerintah. Boikot dilakukan dengan cara memutus iklan di media tersebut.
"Saya akan hubungi semua sekjen dan humas kementerian, jangan pasang iklan di situ".
Orang ini tidak sadar bahwa media yang mendidik masyarakat justru yang mencerdaskan rakyat melalui berita dan informasi tentang kebenaran bukan media yang hanya lebih banyak menampilkan sinetron saja yang tidak jelas jalan ceritanya.

Kekhawatiran Atas Pemerintahan SBY
Kalau pemerintahan SBY jilid 2 ini dipenuhi para penjilat yang hanya menyatakan yang baik-baik saja dan kritikan tidak dijawab sesuai dengan substansi kritiknya, maka rakyat hanya menunggu kejatuhan pemerintahan ini. Sudah banyak terjadi, kasus jatuhnya pemerintahan Soeharto disebabkan inner circle pemerintahan tidak pernah membaca realitas masyarakatnya.
Wallahu a'lam.
Share:

Nama domain dalam ranah dunia maya (internet)

Ranah Internet Tingkat Teratas Top Level Internet Domain, (TLD) umum sebagai berikut:
• com: komersial
• .aero: industri pesawat terbang
• .arpa: Address and Routing Parameter Area
• .biz: bisnis
• .com: komersial
• .coop: koperasi
• .info: informasi
• .int: internasional
• .jobs: sumber daya manusia
• .museum: museum
• .name: nama perorangan
• .net: jaringan
• .org: organisasi
• .pro: profesi
• .travel: industri wisata
• .tv: televise
• .asia: wilayah Asia

Ranah Internet Tingkat Negara, country code top-level domains (ccTLD), sebagai berikut:
1. .ac Ascension Island
2. .ad Andorra
3. .ae United Arab Emirates
4. .af Afghanistan
5. .ag Antigua and Barbuda
6. .ai Anguilla
7. .al Albania
8. .am Armenia
9. .an Netherlands Antilles
10. .ao Angola
11. .aq Antarctica
12. .ar Argentina
13. .as American Samoa
14. .at Austria
15. .au Australia
16. .aw Aruba
17. .ax Åland
18. .az Azerbaijan
19. .ba Bosnia and Herzegovina
20. .bb Barbados
21. .bd Bangladesh
22. .be Belgium
23. .bf Burkina Faso
24. .bg Bulgaria
25. .bh Bahrain
26. .bi Burundi
27. .bj Benin
28. .bm Bermuda
29. .bn Brunei Darussalam
30. .bo Bolivia
31. .br Brazil
32. .bs Bahamas
33. .bt Bhutan
34. .bv Bouvet Island
35. .bw Botswana
36. .by Belarus
37. .bz Belize
38. .ca Canada
39. .cc Cocos (Keeling) Islands
40. .cd Democratic Republic of the Congo tadinya Zaire
41. .cf Central African Republic
42. .cg Republic of the Congo
43. .ch Switzerland
44. .ci Côte d’Ivoire
45. .ck Cook Islands
46. .cl Chile
47. .cm Cameroon
48. .cn hanya untuk China Daratan: Hong Kong dan Macau menggunakan TLD berbeda.
49. .co Colombia
50. .cr Costa Rica
51. .cu Cuba
52. .cv Cape Verde
53. .cx Christmas Island
54. .cy Cyprus
55. .cz Czech Republic
56. .de Germany (Deutschland)
57. .dj Djibouti
58. .dk Denmark
59. .dm Dominica
60. .do Dominican Republic
61. .dz Algeria (Dzayer)
62. .ec Ecuador
63. .ee Estonia
64. .eg Egypt
65. .er Eritrea
66. .es Spain (España)
67. .et Ethiopia
68. .eu European Union
69. .fi Finland
70. .fj Fiji
71. .fk Falkland Islands
72. .fm Federated States of Micronesia
73. .fo Faroe Islands
74. .fr France
75. .ga Gabon
null


76. .gb United Kingdom jarang digunakan; primary ccTLD yang sering digunakan ialah .uk untuk United Kingdom
77. .gd Grenada
78. .ge Georgia
79. .gf French Guiana
80. .gg Guernsey
81. .gh Ghana
82. .gi Gibraltar
83. .gl Greenland
84. .gm The Gambia
85. .gn Guinea
86. .gp Guadeloupe
87. .gq Equatorial Guinea
88. .gr Greece
89. .gs South Georgia and the South Sandwich Islands
90. .gt Guatemala
91. .gu Guam
92. .gw Guinea-Bissau
93. .gy Guyana
94. .hk Hong Kong Special administrative region dari People’s Republic of China.
95. .hm Heard Island and McDonald Islands
96. .hn Honduras
97. .hr Croatia (Hrvatska)
98. .ht Haiti
99. .hu Hungary
100. .id Indonesia
101. .ie Ireland (Éire)
102. .il Israel
103. .im Isle of Man
104. .in India
105. .io British Indian Ocean Territory
106. .iq Iraq
107. .ir Iran
108. .is Iceland (Ísland)
109. .it Italy
110. .je Jersey
111. .jm Jamaica
112. .jo Jordan
113. .jp Japan
114. .ke Kenya
115. .kg Kyrgyzstan
116. .kh Cambodia (Khmer)
117. .ki Kiribati
118. .km Comoros
119. .kn Saint Kitts and Nevis
120. .kp North Korea
121. .kr South Korea
122. .kw Kuwait
123. .ky Cayman Islands
124. .kz Kazakhstan
125. .la Laos kini dipasarkan sebagai domain official untuk Los Angeles.
126. .lb Lebanon
127. .lc Saint Lucia
128. .li Liechtenstein
129. .lk Sri Lanka
130. .lr Liberia
131. .ls Lesotho
132. .lt Lithuania
133. .lu Luxembourg
134. .lv Latvia
135. .ly Libya
136. .ma Morocco
137. .mc Monaco
138. .md Moldova
139. .me Montenegro
140. .mg Madagascar
141. .mh Marshall Islands
142. .mk Republic of Macedonia
143. .ml Mali
144. .mm Myanmar
145. .mn Mongolia
146. .mo Macau Special administrative region dari People’s Republic of China.
147. .mp Northern Mariana Islands
148. .mq Martinique
149. .mr Mauritania
150. .ms Montserrat
151. .mt Malta
152. .mu Mauritius
153. .mv Maldives
154. .mw Malawi
155. .mx Mexico
156. .my Malaysia
157. .mz Mozambique
158. .na Namibia
159. .nc New Caledonia
160. .ne Niger
161. .nf Norfolk Island
162. .ng Nigeria
163. .ni Nicaragua
164. .nl Netherlands
165. .no Norway
166. .np Nepal
167. .nr Nauru
null168. .nu Niue Biasa digunakan untuk website-website Scandinavian dan Dutch, karena dalam bahasa mereka ‘nu’ berarti ‘now’.
169. .nz New Zealand
170. .om Oman
171. .pa Panama
172. .pe Peru
173. .pf French Polynesia dengan Clipperton Island
174. .pg Papua New Guinea
175. .ph Philippines
176. .pk Pakistan
177. .pl Poland
178. .pm Saint-Pierre and Miquelon
179. .pn Pitcairn Islands
180. .pr Puerto Rico
181. .ps Palestinian territories di bawah kontrol PA yang meliputi Tepi Barat (West Bank) dan Jalur Gaza (Gaza Strip)
182. .pt Portugal
183. .pw Palau
184. .py Paraguay
185. .qa Qatar
186. .re Réunion
187. .ro Romania
188. .rs Serbia
189. .ru Russia
190. .rw Rwanda
191. .sa Saudi Arabia
192. .sb Solomon Islands
193. .sc Seychelles
194. .sd Sudan
195. .se Sweden
196. .sg Singapore
197. .sh Saint Helena
198. .si Slovenia
199. .sj Svalbard dan Jan Mayen
200. .sk Slovakia
201. .sl Sierra Leone
202. .sm San Marino
203. .sn Senegal
204. .so Somalia
205. .sr Suriname
206. .st São Tomé and Príncipe
207. .su tadinya Soviet Union
208. .sv El Salvador
209. .sy Syria
210. .sz Swaziland
211. .tc Turks and Caicos Islands
212. .td Chad
213. .tf French Southern and Antarctic Lands
214. .tg Togo
215. .th Thailand
216. .tj Tajikistan
217. .tk Tokelau
218. .tl East Timor
219. .tm Turkmenistan
220. .tn Tunisia
221. .to Tonga
222. .tp East Timor
223. .tr Turkey
224. .tt Trinidad and Tobago
225. .tv Tuvalu nama domain yang banyak digunakan oleh stasiun televisi.
226. .tw Taiwan, Republic of China
227. .tz Tanzania
228. .ua Ukraine
229. .ug Uganda
230. .uk United Kingdom
231. .um United States Minor Outlying Islands
232. .us United States of America Biasa digunakan oleh U.S. State dan local governments daripada TLD .gov
233. .uy Uruguay
234. .uz Uzbekistan
235. .va Vatican City State
236. .vc Saint Vincent and the Grenadines
237. .ve Venezuela
238. .vg British Virgin Islands
239. .vi U.S. Virgin Islands
240. .vn Vietnam
241. .vu Vanuatu
242. .wf Wallis and Futuna
243. .ws Samoa tadinya Western Samoa
244. .ye Yemen
245. .yt Mayotte
246. .yu Yugoslavia Kini digunakan untuk Serbia dan Montenegro
247. .za South Africa (Zuid-Afrika)
248. .zm Zambia
249. .zw Zimbabwe
Sumber://dari
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Internet_top-level_domains
http://in.wikipedia.org
Share:

Memblokir Iklan dengan Adblock dan FlashBlock

Iklan menjadi bagian dari sebuah kemajuan bisnis yang berkembang saat ini. Kadang kala pengiklan kurang memperhatikan bentuk tayangan dan konten yang ingin disampaikan dengan media yang ada. Tentu semua orang akan merasa kurang nyaman dengan berbagai iklan yang ada, namun iklan adalah roh dari kegiatan sehari-hari baik di media cetak (Koran), media elektronika (TV, Radio) dan dunia maya (internet).
Khusus untuk iklan pada dunia maya (internet) bisa menyebabkan pengunjung bosan, juga membuat loading lebih lambat, dan bahkan ada yang membawa virus. Bagi pengguna awan tentu hal ini bias dianggap biasa, tetapi juga dapat menimbulkan efek negative yaitu tidak mau mengunjung situs tersebut yang menampilkan iklan yang mencul tiba-tiba atau istilahnya popup.
null Sebenarnya iklan jenis itu dapat diblokir dengan menggunakan addon bernama adBlock dan FlashBlock pada browser Mozilla Firefox. Untuk adBlock caranya adalah silahkan buka  http://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addons/adblock-plus, sedangkan untuk flashblock  di situs http://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addons/flashblock.

Cara menrestartnya di Mozilla adalah dengan menutup kemudian membuka kembali Mozilla anda. Jika proses ini berjalan benar dan baik scara cara otomatis program sudah terintegrasi dalam Mozilla dan akan memblock jenis iklan yang sering melayang (popup). Sedangkan untuk addons Flashblock cara menginstallnya adalah sama dengan adblock, hanya kerjanya lebih spesifik akan memblokir iklan-iklan yang menggunakan script dan flash animasi.
nullPada dunia maya menjadi dunia baru bagi pengiklan karena terus bertambahnya pengguna internet. Iklan terus akan mengejar dan menerkam komunitas-komunitas yang muncul dengan berbagai cara termasuk iklan popup tadi. Yang menjengkelkan adalah iklan yang sulit dihindari yang menggunakan sript, flash, hyperlink, tak terkecuali Google yang terkenal iklan Google adsense-nya yang memang banyak menjanjikan dan banyak yang terbukti dapat mendatangkan dollar. Namun tentu masalah etik iklan di dunia maya akan dengan sendirinya, karena inti iklan tujuannya adalah menyaampaikan pesan untuk pengunjung. Jadi iklan harus dibuat dan ditayangkan semenarik mungkin untuk membuat pengunjung membaca dengan perasaan senang, dan tujuan dari iklan tersampaikan.
Sumber://dari Kedaulatan Rakyat, Senin, 4 Juli 2011, halaman 15.
Share:

Label

Artikel (14) Belajar Media Kreatif (10) Media Pengajaran Interaktif (10) Media Pengajaran Kreatif (10) Media Pengajaran Multimedia (10) Pelatihan Mencipta Media (10) Software AudioVisual (8) Tutorial Media (6) Contoh Media (5) Data Workshop Media Pengajaran (5) Hasil Penelitian Media Pengajaran (3) Tempat Kegiatan Workshop (2) Akreditasi Madrasah (1) Akreditasi Sekolah (1) Attribution Theory in Classroom (1) BIMTEK PTK (1) Belajar Kreatif Mediatama Ngajnuk (1) Belajar Kreatif Mediatama Tulungagung (1) Belajar kreatif Tuban (1) Bimbel Les Skolastik (1) Bimbel TPS SBMPTN (1) Jadwal Kegian BKM (1) Kegiatan Belajar kreatif Ngawi (1) Kegiatan Bimbtek PTK (1) Kontak Belajar Kreatif Mediatama (1) Les Baca (1) Les Calistung (1) Les TPA SBMPTN (1) Lokasi Kegiatan Belajar Kreatif (1) M.Pd (1) Media Belajar Kreatif (1) Pelatihan Media Tulungagung (1) Pembuat Media Belajar di Trenggalek (1) Pembuatan Media Negara (1) Pengajaran Efektif (1) Privat Bimbel SBMPTN (1) Psikologi daya rekat (1) Seminar Media Belajar Negara (1) Seminar Media Belajar Ngajuk (1) Seminar di Ngawi (1) Seminar di Tulungagung (1) Tempat Privat SBMPTN (1) Workshop Belajar Kreatif Negara (1) Workshop Media Belajar Ngajuk (1) Workshop Media Belajar Ngawi (1) Workshop Media Belajar Tuban (1) Workshop Media Tulungagung (1) Workshop di Trenggalek (1) Yoko Rimi (1) academic motivation (1) adblock iklan (1) akreditasi online (1) akreditasi sekolah madrasah (1) anggaran pendidikan (1) bap (1) domain internet (1) domain nama negara (1) flashblock iklan (1) ikatan sosial rakyat (1) jenis media pengajaran (1) keunggulan rsbi (1) kritik mendidik (1) kualitas pendidikan (1) kualitas rsbi (1) kurikulum pendidikan (1) major learning problem (1) media pendidikan (1) media pengajaran (1) mru (1) pendidikan dari kiritk (1) pendidikan kartini (1) pendidikan liberal (1) pendidikan rsbi (1) power tools (1) power tools lite (1) proses akreditasi online (1) recopy file (1) rsbi mahal (1) sejarah media pengajaran (1) sekolah rsbi (1) sense of completion (1) sifat media pengajaran (1) teracopy (1)

Artikel Media

GAMBAR ANIMASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

GAMBAR ANIMASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR Zulaikhah Zulaikhah   Abstract   Abstrak Media gambar animasi yang berupa fil...