Melayani Pembuatan Media Pengajaran Berbasis Multimedia

Tampilkan postingan dengan label Tutorial Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tutorial Media. Tampilkan semua postingan

Pentingnya “Rancangan” Materi Pelajaran

Ada pepatah mengatakan, “Guru itu semalam lebih tahu dari pada murid-muridnya.” Seorang guru yang baru biasanya “wayangan” untuk mempelajari materi yang akan diajarkan keesokan harinya. Sukses tidaknya pelajaran di kelas, ditentukan oleh persiapan yang dilakukan oleh sang guru. “No plan is no brain” tanpa rencana sama berarti tak ada otak, demikian kata pakar manajemen.



Rancangan mata pelajaran atau disebut juga satuan pelajaran atau “lesson plan” sudah seharusnya menjadi persiapan mengajar di setiap hari bagi guru-guru baru atau mahasiswa-mahasiswa yang akan melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Karena persiapan adalah sangat krusial, persiapan pengajaran memegang peran lebih dari enam puluh persen dari suksesnya pelajaran. No preparation, no teaching. Apa yang akan diajarkan jika rancangan dan persiapan tidak ada sama sekali?



Pengajaran Efektif,
Pengajaran efektif mutlak didasari perencanaan yang cermat. Setiap satuan pelajaran atau seluruh mata pelajaran harus diartikulaiskan tujuan pelajaran atau lesson outcome dengan mencakup hal sebagai berikut:
• Outcome (hasil) yang diinginkan.
• Apa yang akan dipelajari oleh anak didik? (konsep, ketrampilan, fakta ataukah nilai-nilai?)
• Teknik yang akan digunakan atau strategi yang akan diangkat dalam menyajikan materi
• Bagaimana menentukan pengujian atau assessment atas apa yang diajarkan kepada anak didik dan evaluasi bagi sang guru apakah rancangan itu sesuai dengan apa yang diharapkan. Meskipun demikian, dokumen rancangan pelajaran harus fleksibel. Para mahasiswa PPL dan guru-guru baru harus mampu menguasai bagaimana menambah dan menerapkan perubahan-perubahan selama menyajikan pelajaran. Karena tidak segalanya akan berjalan sesuai rencana.


Lesson Outcome (Tujuan di setiap episode pengajaran)

Tujuan pengajaran yang tercakup dalam lesson plan (satuan rancangan pelajaran)
meliputi:
• Identifikasi pentingnya …(sesuatu)
• Diskusi tentang …
• Pengertian tentang …
Spesifikasi tujuan-tujuan diatas harus diukur dengan tujuan dari kurikulum yang ada
dengan cara merumuskan satu atau dua outcome yang memfokuskan dalam satuan pelajaran dengan mempertimbangkan isi materi pelajaran, pengaruh dan proses kognisinya. Prior knowledge atau disebut juga pengetahuan dasar anak didik.perlu dipertimbangkan dalam menyusun rancangan pelajaran demi kesuksesan penyajian materi pelajaran yang bersangkutan. Hal-hal yang diperhitungkan dalam pengetahuan dasar anak didik meliputi pengetahuan, ketrampilan atau keahlian, pengalaman dan penanaman nilai yang telah
menyerap pada mereka sebelum melangkah pada phase pengajaran berikutnya.
Persiapan materi yang mendukung harus diperhitungkan sebelum pengajaran dimulai seperti Overhead Projector, laboratorium, dan semua instansi-instansi yang terlibat. Ini juga termasuk uji coba sumber pembelajaran dan test waktu apakah tugas yang akan diberikan akan mampu diselesaikan dalam kurun waktu yang tersedia.

Pembagian Alokasi Waktu
Dalam mempertimbangkan alokasi waktu pelajaran, seorang guru harus berpegangan pada realistic plan. Pertimbangkan short attention span atau daya tahan anak didik untuk mampu menyerap pelajaran yang diberikan. Seberapa menariknya proses pembelajaran, tapi diberikan lebih dari satu jam lamanya kepada anak-anak di Sekolah Dasar, maka akan berakibat disaster, atau paling tidak, menjadi membosankan. Begitu juga dengan anak-anak didik di SLTP and SLTA, jika pengajaran terlalu singkat, maka mereka cenderung gaduh, tidak mempedulikan guru karena sedikitnya tugas yang harus mereka lakukan.

Pembagian alokasi waktu dapat dikategorikan menjadi introduksi atau stimulasi,
pengembangan, konsolidasi dan kulminasi atau, puncak atau penutup. Phase stimulasi berisi perncananan tentang strategi memotivasi untuk menangkap perhatian anak-anak didik. Dalam hal ini bisa termasuk penggunaan alat-alat atau instrument untuk merangsang keingintahuan mereka. Selain itu, dua hal utama dalam phase ini disinggung yaitu penjelasan tentang apa yang akan disinggung dan dilpelajari dalam episode pelajaran tersebut dan kesinambungan tujuan pelajaran yang telah lalu.

Phase pengembangan adalah mengenalkan aktivitas pelajaran dengan jelas dan masuk akal. (clear and logical manner). Sang guru mesti mempertimbangkan sequence atau urutan-urutan aktifitas dalam pengembangan tugas-tugas pembelajaran. Pemahaman anak-anak didik harus dimonitor secara cermat dengan melibatkan investigasi atau meneliti sesuatu, mendengarkan penjelasan sang guru dan mencatat informasi tersebut ke dalam dokumentasi mereka.
Dalam phase pengembagan ini perlu dipertimbangkan:
• Pengorganisasian kelas (pembagian tugas, siapa yang akan bertanggung jawab atas
pengambilan buku dan pengembalikannya ke perpustakaan, pengambilan OHP ke kantor dan mengembalikan ke kantor, kapur atau spidol kalau habis, dan lain sebagainya.
• Pertanyaan-pertanyaan kunci atau diskusi poin yang harus ditekankan agar anak didik memahami tentang materi pelajaran.
• Keterangan-keterangan yang jelas tentang aktivitas yang harus dipenuhi.
• Yang paling penting adalah focus atas ‘apa’ yang anak didik lakukan, bukan apa-apa
yang guru lakukan di dalam kelas.

Phase konsolidasi biasanya berisikan pemberian kesempatan kepada anak-anak didik untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang harus dikuasai melalui pengajaran yang baru saja dijelaskan. Mereka dituntut mampu mendemonstrasikan problem solving (penyelesaian masalah), penyajian atau presentasi dan mengajukan pendapatnya. Guru harus mampu memotivasi anak didiknya untuk menggali potensi dan pemahaman anak didik tentang materi pelajaran, tidak hanya menunggu anak didik bertanya tetapi merangsang and memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan materi.
Phase kulminasi atau disebut juga penutup adalah summary atau men yimpulkan dari
aktivitas pelajaran yang baru berlangsung. Guru mengulang dan menggarisbawahi apa apa yang terpenting dari materi yang dilewati atau menanyakan bagaimana perasaan anak-anak didik setelah melengkapi tugas-tugas yang diberikan selama pelajaran (sense of completion). Dalam tahapan ini banyak para guru senior memberikan pekerjaan rumah atau digunakan untuk bersih-bersih kelas, pengembalikan peralakan ke perpustakaan, laboratorium, kantor dan lain sebagainya.

Assessment dan Evaluasi
Perencanaan dalam pengajaran harus mencakus aspek assessment dan evaluasi. Dua hal ini seringkali terlupakan dalam merencanakan rancangan satuan pelajaran. Assessment adalah satu bagian integral dari proses belajar mengajar, yang dapat memberikan akses secara langsung kepada guru apakah pola pikir anak didik telah mampu menyerap dan mengikuti keterangan-keterangan yang baru saja disampaikan. Bagi para mahasiswa PPL seharusnya proses assessment ini berlangsung selama pengajaran berlangsung dengan cara observasi pada aktivitas siswa, mengoreksi hasil-hasil kerja anak didik, menangkap jawaban-jawaban yang disampaikan mereka atas pertan yaan-pertanyaan yang diberikan melalui diskusi di kelas.

Sedangkan evaluasi digunakan sebagai alat pengukur pada kesuksesan pengajaran yang berlangsung. Para mahasiswa PPL dan guru-guru baru sebaiknya mengukur kelemahan dan keunggulan dari strategi yang diterapkan. Kemudian mencatat adakah area of concern (aspek-aspek yang perlu dikhawatirkan) serta keinginan yang ingin dikembangkan pada pelajaran berikutnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang harus dipertimbangkan dalam mengevaluasi proses
pengajaran antara lain:
• Bagaimana mengantisipasi pelajaran untuk meraih outcome pelajaran?
• Apakah ada perubahan-perubahan yang terobservasi dari pengetahuan, ketrampilan dan
tingkah laku anak didik dalam pengajaran? Seperti apa perubahan itu?
• Bagaimana materi pelajaran mengakomodasi perbedaan-perbedaan kemampuan
diantara siswa?
• Aspek apakah dalam materi pelajaran yang dapat ditingkatkan?

Sedangkan pertanyaan-pertanyaan untuk evaluasi bagi sang pengajar meliputi:
• Apakah persiapan pelajaran (lesson plan) sudah efektif?
• Apakah rencana pelajaran sudah cukup detail? Mengapa?
• Apakah strategi dapat ditingkatkan untuk pelajaran berikutnya?
• Apakah class management (pengelolaan / pengaturan kelas) sudah efektif dan efisien?
Mengapa?

Untuk mengevaluasi struktur pelajaran pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut harus
diajukan:
• Apakah prior learning (pengetahuan siswa materi sebelum materi pelajaran) telah
diantisipasi?

• Apakah tahap introduksi atau stimulasi cukup memotivasi siswa? Bagaimana tanggapan mereka pada saat itu?
• Apakah pelajaran mengalir secara teratur? (siswa-siswa tidak bosan, gaduh ataupun tidak mematuhi aturan?)
• Apakah siswa diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan apa-apa yang
dipelajarinya?
• Apakah materi pendukung dan peralatan-peralatan Bantu cukup efektif dalam
pelajaran?
• Apakah assessment yang lebih efektif perlu diterapkan untuk materi pelajaran?
• Apakah ada hal-hal yang terjadi tanpa diantisipasi dalam rancangan pelajaran?
• Apakah phase kulminasi atau penutup cukup efektif untuk meringkas materi pelajaran
yang bisa saja diajarkan?

Kesimpulan

Jika persiapan yang dirancang oleh calon guru dan para guru mencakup hal-hal yang
tercantum diatas, seperti hanya lesson outcome (tujuan pengajaran), indikasi, pembagian alokasi waktu, aktivitas yang detail dan kulminasi, niscaya pelajaran akan berjalan lebih lancar dan terarah. Meski kita tidak pernah bisa meramalkan apa saja yang terjadi di hadapan kita, paling tidak kita harus mempersiapkan dari sebagai pendidik dan pengajar.
Dari hal-hal yang kecil inilah mata pelajaran tergantung pada tangan-tangan kita. Sang guru memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak bangsa, tunas harapan masa depan di pundaknya.

Newcastle, 22 Juni 2009
*) Yusdi Maksum (yusdi.maksum@yahoo.com.au) The author currently studies Postgraduate Diploma in Education at The University of Newcastle Australia, graduated from University of Yogyakarta State.
Share:

SBI Tidak Komersial

Sekolah berikut sekedar contoh, bahwa internasionalisasi bisa dilakukan secara substantif bukan sekedar euforia SBI. Bahwa internasionalisasi dapat dilakukan tanpa mengabaikan akses masyarakat semua lapisan.
 
Melalui perjalanannya yang panjang, Sekolah Dasar Laboratoium Universitas Negeri sejak tahun 2001 dibawah kepemimpinan Drs Suprihadi Saputro S.Pd, M.Pd, mengembangkan sistem manajemen sekolah yang berbasis kompetensi dan sistem pembelajarannya dengan pendekatan mastery learning dan continous progress.

Pembelajaran individual melalui modul dan inedependent study. yang diberlakukan saat ini, Sekolah Dasar laboratorium telah berhasil meningkatkan efisiensi pendidikannya. Model akselerasi alamiah yang dikembangkan memberi peluang bagi siswa yang kecepatan belajarnya tinggi
untuk menyelesaikan pendidikan SD-nya hanya dengan waktu 5 tahun. Pendekatan Individual yang dijalankan telah mengubah paradigma anak tentang hahekat belajar.



Tahun 2005 sekolah ini mengembangkankan diri menjadi sekolah nasional berstandar international (bukan SBI-nya pemerintah lho-lihat tahunnya-pemerintah baru mengeluarkan aturannya saja tahun 2006). Untuk itu, menjalin kerjasama dengan Cambridge University International Examination (CIE) Tanggal 22 April 2007, bersamaan dengan peringatan Hari Bumi se-Dunia, SD Laboratorium dikembangkan dan di resmikan oleh Rektor UM Prof Dr. H. Suparno menjadi Pendidikan Dasar Sembilan Tahun di bawah pengelolaan satu atap One School One Director Pada Juni 2007 SD Laboratorium terakreditasi sebagai satu-satunya Centre of Primary Program University of Cambridge International Examination di Indonesia

Karakteristik program pendidikan di SD Lab: Self-Directed Learning : belajar atas arahan dirinya sendiri. Career- Education : siswa mampu memilih cita-cita untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sesuai dengan sikap dan minatnya. Personality Development : berkembangnya kepribadian anak yang memungkinkan anak dapat bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, memahami orang lain, dll. Cognitif Development : mengarahkan anak untuk menguasai kompetensi KOGNITIF, BERFIKIR DIVERGEN DAN BERFIKIR TINGKAT TINGGI.

Continous Learning : menumbuhkan kesadaran dan membekali kemampuan anak untuk belajar secara berkelanjutan ( life long learning). Knowledge to improve Society : isi pembelajaran dihubungkan dengan pengetahuan dan perubahan sosial, sehingga membimbing anak untuk mampu berpartisipasi dalam perkembangan masyarakat masa depan.Development of Value: pembelajaran yang lebih menekankan pada pengembangan sistem nilai yang berguna dalam kehidupan anak di masyarakat. Preparation for Change :mengembangkan keterampilan, sikap, dan kebiasaan dan aneka pengetahuan dan pemahaman yang berguna bagi anak untuk menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan masyarakat.Cultural Pluralism : menyiapkan anak untuk kehidupan masyarakat global yang majemuk.
Share:

Matra SBI Sekolah Berbasis Internasional Indonesia

Belakangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) menjadi semacam mantra baru untuk perbaikan mutu pendidikan Indonesia. Seakan-akan dengan menerapkan SBI mutu pendidikan akan terkerek ke arah lebih baik. Embel-embal internasional seakan-akan menjadikan sekolah Indonesia sejajar, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dengan sekolah-sekolah di belahan negara lain.
Maka sekolah-sekolah berlomba-lomba menerapkan sistem ini dan bagi yang belum mencapai akan mengarahkan seluruh sumber daya-nya ke arah sana. Aspek-aspek manajemen pendidikan seperti misalnya akreditasi, kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan sepertinya mengalami perbaikan mutu sebai implikasi adanya SBI.

Memang pelaksanaan SBI membawa implikasi terhadap aspek manajemen pendidikan/sekolah dan aspek tersebut masih perlu dibenahi. Beberepa aspek tersebut antara lain akreditasi, kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Setiap aspek dalam manajemen pendidi Sekolakan tersebut tentu saja memiliki standar mutu yang berbeda untuk menilai keandalannya. Aspek-aspek manajemen pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa SBI dapat dijadikan standar, hal ini tampak dari dasar pelaksanaannya.



Dasar pelaksanaan SBI yaitu Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, Pasal 50 ayat (3) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. PP no 19 tahun 2005 (Pasal 61 ayat 1) Pemerintah bersama-sama pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.
Sementara itu dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 dinyatakan bahwa untuk meningkatkan daya saing bangsa, perlu dikembangkan sekolah bertaraf internasional pada tingkat kabupaten/kota melalui kerjasama yang konsisten antara pemerintah dengan pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan, untuk mengembangkan SD, SMP, SMA, dan SMK yang bertaraf internasional.

Sementara itu pelaksanaan SBI tidak serta merta berjalan mulus, terdapat banyak krtitik terhadapnya. M. Fajri Siregar (Kompas, 8 April 2009) menyoroti bahwa pelaksanaan SBI menjadikan kurikulum dan materi pelajaran terkesan tidak terkontrol oleh pemerintah. Selain memakai kurikulum nasional, sekolah-sekolah nasional tersebut juga mengadopsi kurikulum internasional. Bahkan, pengajarnya lebih banyak warga negara asing, termasuk penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Selain itu berupa munculnya dampak panjang sosial budaya dan nasionalisme pada anak-anak Indonesia. Para siswa begitu minim pengetahuan sosial dan budaya Indonesia, nilai-nilai historis dan nasionalisme, serta sikap individualisme yang begitu tinggi. Kurikulum sekolah menyiapkan mereka sebagai warga dunia atau sebagai komunitas internasional, sebaliknya nilai-nilai keIndonesiaan tidak ditanamkan.

Kecaman keras bahkan muncul dari HAR Tilaar (Kompas, 8 April 2009) bahwa sikap pemerintah yang telah berperan besar bagi menjamurnya sekolah-sekolah tersebut. Pemerintah belum memiliki landasan hukum yang jelas bagi penyelenggaraan sekolah nasional plus ini. Menurutnya, itu berarti pemerintah tidak percaya terhadap sistem pendidikannya sendiri, yaitu pendidikan nasional yang bisa bersaing secara global dengan negara lain.

Kebijakan pemerintah justru mendorong bermunculannya sekolah-sekolah negeri bertaraf internasional dan berbiaya besar ini. Seharusnya pemerintah memperkuat sistem pendidikan sendiri, bukan sebaliknya menciptakan sistem pendidikan berkelas-kelas yang akan menciptakan bom sosial kelak di kemudian hari,

Paparan di atas memperlihatkan bahwa masih terdapat sisi-sisi lemah atau masalah-masalah dalam penyelenggaraan SBI dan tentu saja memiliki implikasi terhadap manajemen sekolahnya. Matra SBI Sekolah Berbasis Internasional Indonesia
Share:

Nama domain dalam ranah dunia maya (internet)

Ranah Internet Tingkat Teratas Top Level Internet Domain, (TLD) umum sebagai berikut:
• com: komersial
• .aero: industri pesawat terbang
• .arpa: Address and Routing Parameter Area
• .biz: bisnis
• .com: komersial
• .coop: koperasi
• .info: informasi
• .int: internasional
• .jobs: sumber daya manusia
• .museum: museum
• .name: nama perorangan
• .net: jaringan
• .org: organisasi
• .pro: profesi
• .travel: industri wisata
• .tv: televise
• .asia: wilayah Asia

Ranah Internet Tingkat Negara, country code top-level domains (ccTLD), sebagai berikut:
1. .ac Ascension Island
2. .ad Andorra
3. .ae United Arab Emirates
4. .af Afghanistan
5. .ag Antigua and Barbuda
6. .ai Anguilla
7. .al Albania
8. .am Armenia
9. .an Netherlands Antilles
10. .ao Angola
11. .aq Antarctica
12. .ar Argentina
13. .as American Samoa
14. .at Austria
15. .au Australia
16. .aw Aruba
17. .ax Åland
18. .az Azerbaijan
19. .ba Bosnia and Herzegovina
20. .bb Barbados
21. .bd Bangladesh
22. .be Belgium
23. .bf Burkina Faso
24. .bg Bulgaria
25. .bh Bahrain
26. .bi Burundi
27. .bj Benin
28. .bm Bermuda
29. .bn Brunei Darussalam
30. .bo Bolivia
31. .br Brazil
32. .bs Bahamas
33. .bt Bhutan
34. .bv Bouvet Island
35. .bw Botswana
36. .by Belarus
37. .bz Belize
38. .ca Canada
39. .cc Cocos (Keeling) Islands
40. .cd Democratic Republic of the Congo tadinya Zaire
41. .cf Central African Republic
42. .cg Republic of the Congo
43. .ch Switzerland
44. .ci Côte d’Ivoire
45. .ck Cook Islands
46. .cl Chile
47. .cm Cameroon
48. .cn hanya untuk China Daratan: Hong Kong dan Macau menggunakan TLD berbeda.
49. .co Colombia
50. .cr Costa Rica
51. .cu Cuba
52. .cv Cape Verde
53. .cx Christmas Island
54. .cy Cyprus
55. .cz Czech Republic
56. .de Germany (Deutschland)
57. .dj Djibouti
58. .dk Denmark
59. .dm Dominica
60. .do Dominican Republic
61. .dz Algeria (Dzayer)
62. .ec Ecuador
63. .ee Estonia
64. .eg Egypt
65. .er Eritrea
66. .es Spain (España)
67. .et Ethiopia
68. .eu European Union
69. .fi Finland
70. .fj Fiji
71. .fk Falkland Islands
72. .fm Federated States of Micronesia
73. .fo Faroe Islands
74. .fr France
75. .ga Gabon
null


76. .gb United Kingdom jarang digunakan; primary ccTLD yang sering digunakan ialah .uk untuk United Kingdom
77. .gd Grenada
78. .ge Georgia
79. .gf French Guiana
80. .gg Guernsey
81. .gh Ghana
82. .gi Gibraltar
83. .gl Greenland
84. .gm The Gambia
85. .gn Guinea
86. .gp Guadeloupe
87. .gq Equatorial Guinea
88. .gr Greece
89. .gs South Georgia and the South Sandwich Islands
90. .gt Guatemala
91. .gu Guam
92. .gw Guinea-Bissau
93. .gy Guyana
94. .hk Hong Kong Special administrative region dari People’s Republic of China.
95. .hm Heard Island and McDonald Islands
96. .hn Honduras
97. .hr Croatia (Hrvatska)
98. .ht Haiti
99. .hu Hungary
100. .id Indonesia
101. .ie Ireland (Éire)
102. .il Israel
103. .im Isle of Man
104. .in India
105. .io British Indian Ocean Territory
106. .iq Iraq
107. .ir Iran
108. .is Iceland (Ísland)
109. .it Italy
110. .je Jersey
111. .jm Jamaica
112. .jo Jordan
113. .jp Japan
114. .ke Kenya
115. .kg Kyrgyzstan
116. .kh Cambodia (Khmer)
117. .ki Kiribati
118. .km Comoros
119. .kn Saint Kitts and Nevis
120. .kp North Korea
121. .kr South Korea
122. .kw Kuwait
123. .ky Cayman Islands
124. .kz Kazakhstan
125. .la Laos kini dipasarkan sebagai domain official untuk Los Angeles.
126. .lb Lebanon
127. .lc Saint Lucia
128. .li Liechtenstein
129. .lk Sri Lanka
130. .lr Liberia
131. .ls Lesotho
132. .lt Lithuania
133. .lu Luxembourg
134. .lv Latvia
135. .ly Libya
136. .ma Morocco
137. .mc Monaco
138. .md Moldova
139. .me Montenegro
140. .mg Madagascar
141. .mh Marshall Islands
142. .mk Republic of Macedonia
143. .ml Mali
144. .mm Myanmar
145. .mn Mongolia
146. .mo Macau Special administrative region dari People’s Republic of China.
147. .mp Northern Mariana Islands
148. .mq Martinique
149. .mr Mauritania
150. .ms Montserrat
151. .mt Malta
152. .mu Mauritius
153. .mv Maldives
154. .mw Malawi
155. .mx Mexico
156. .my Malaysia
157. .mz Mozambique
158. .na Namibia
159. .nc New Caledonia
160. .ne Niger
161. .nf Norfolk Island
162. .ng Nigeria
163. .ni Nicaragua
164. .nl Netherlands
165. .no Norway
166. .np Nepal
167. .nr Nauru
null168. .nu Niue Biasa digunakan untuk website-website Scandinavian dan Dutch, karena dalam bahasa mereka ‘nu’ berarti ‘now’.
169. .nz New Zealand
170. .om Oman
171. .pa Panama
172. .pe Peru
173. .pf French Polynesia dengan Clipperton Island
174. .pg Papua New Guinea
175. .ph Philippines
176. .pk Pakistan
177. .pl Poland
178. .pm Saint-Pierre and Miquelon
179. .pn Pitcairn Islands
180. .pr Puerto Rico
181. .ps Palestinian territories di bawah kontrol PA yang meliputi Tepi Barat (West Bank) dan Jalur Gaza (Gaza Strip)
182. .pt Portugal
183. .pw Palau
184. .py Paraguay
185. .qa Qatar
186. .re Réunion
187. .ro Romania
188. .rs Serbia
189. .ru Russia
190. .rw Rwanda
191. .sa Saudi Arabia
192. .sb Solomon Islands
193. .sc Seychelles
194. .sd Sudan
195. .se Sweden
196. .sg Singapore
197. .sh Saint Helena
198. .si Slovenia
199. .sj Svalbard dan Jan Mayen
200. .sk Slovakia
201. .sl Sierra Leone
202. .sm San Marino
203. .sn Senegal
204. .so Somalia
205. .sr Suriname
206. .st São Tomé and Príncipe
207. .su tadinya Soviet Union
208. .sv El Salvador
209. .sy Syria
210. .sz Swaziland
211. .tc Turks and Caicos Islands
212. .td Chad
213. .tf French Southern and Antarctic Lands
214. .tg Togo
215. .th Thailand
216. .tj Tajikistan
217. .tk Tokelau
218. .tl East Timor
219. .tm Turkmenistan
220. .tn Tunisia
221. .to Tonga
222. .tp East Timor
223. .tr Turkey
224. .tt Trinidad and Tobago
225. .tv Tuvalu nama domain yang banyak digunakan oleh stasiun televisi.
226. .tw Taiwan, Republic of China
227. .tz Tanzania
228. .ua Ukraine
229. .ug Uganda
230. .uk United Kingdom
231. .um United States Minor Outlying Islands
232. .us United States of America Biasa digunakan oleh U.S. State dan local governments daripada TLD .gov
233. .uy Uruguay
234. .uz Uzbekistan
235. .va Vatican City State
236. .vc Saint Vincent and the Grenadines
237. .ve Venezuela
238. .vg British Virgin Islands
239. .vi U.S. Virgin Islands
240. .vn Vietnam
241. .vu Vanuatu
242. .wf Wallis and Futuna
243. .ws Samoa tadinya Western Samoa
244. .ye Yemen
245. .yt Mayotte
246. .yu Yugoslavia Kini digunakan untuk Serbia dan Montenegro
247. .za South Africa (Zuid-Afrika)
248. .zm Zambia
249. .zw Zimbabwe
Sumber://dari
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Internet_top-level_domains
http://in.wikipedia.org
Share:

Oh … Hormon dan Psikologi

Terus terang saya agak kesulitan menjawab persoalan yang dilontarkan pada saya. Siang itu teman saya, perempuan-cantik, mempersoalkan tentang hormon dan kerekatannya dengan psikologi. Dia menunjukkan kepada saya letak kerekatan ilmu psikologi dengan (entah) sesuatu yang berhubungan dengan hormon: daya rekatnya, variabel kerekatannya, jenis kerekatannya, dan seberapa besar variabel kajian tentang hormon ini memiliki kontribusi terhadap keilmuan psikologi.

Sekali lagi ini persolan ini diluar jangkauan saya. Satu sisi saya tidak memiliki landasan keilmuan psikologi, sisi lainnya persoalan terlalu mendadak. Nah, tapi hari ini saya ingin menulis tentang tema itu. Alih-alih membantu teman saya tadi, tulisan ini merupakan pembelajaran bagi saya.



Tapi, tulisan ini lebih banyak melihat persoalan epistimologisnya ketimbang melihat struktur keilmuan psikologi maupun hormon (mungkin cabang biologi atau kedokteran).

Daya Rekat

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kondisi persis sama. Tak ada satu manusia pun di dunia yang segala sesuatunya sama persis.

Ilmu psikologi memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan setiap manusia meliputi: faktor biologis & genetika (keturunan), faktor pola asuh, faktor lingkungan, faktor pendidikan, dan faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari). Kita mencoba melihat faktor biologis dan genetika, ini terkait dengan persoalan hormon dengan psikologi tadi.

Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.

Sekarang terlihat jelas polanya: hormon (bisa berupa kajian, teori, ataupun hukum) memiliki daya rekat, terutama pada pembentukan manusia yang unik. Daya rekatnya (hormon & psikologi) akan terlihat pada teori perkembangan psikologi, penampakan tanda- tanda sekunder pada manusia dan lainnya dan seterusnya. Rekat???? Iya keduanya akan memunculkan peran untuk menjelaskan sebuah fenomena. Misal, penampakan tanda-tanda sekunder pada manusia merupakan hasil dari produksi hormon tertentu, tapi pada saat bersamaan banyak gejala-gejala psikologis yang tampak di sana.

Variabel Kerekatan

Kalau keduanya rekat (hormon dan psikologi), lantas variabel mana saja yang membuat keduanya rekat. Sebelum jauh, saya mau bertanyan, apakah Anda pernah terkena sakit sariawan? Apa yang Anda lakukan?

Mungkin kita pernah berfikir sariawan terjadi karena kuarang vitamin C. Padahal sariawan tidak berhubungan langsung dengan asupan vitamin C yang kurang, tetapi dengan vitamin B12 (folat). Vitamin C membantu proses penyembuhannya. Padahal sariawan yang selalu dikaitkan dengan panas dalam oleh masyarakat, dapat merupakan manifestasi bermacam-macam penyakit. Bisa diakibatkan oleh berbagai faktor. Paling sering disebabkan kekurangan sayur-mayur dan buah-buahan. Luka akibat penyikatan gigi atau makanan yang keras dan tajam pun dapat menyebabkan sariawan. Stres dan hormon dapat menjadi faktor pemicu. Tidak sedikit orang yang sariawannya kambuh hampir tiap bulan atau setiap menjelang haid.

Baik, variabel pertama yang kuat tampaknya pada hormon dan stres. Hormon memiliki pengaruh terhadap stres pada manusia. Hipertiroid, alias kelebihan hormon tiroid, mungkin Anda pernah mendengar. Gejalanya sering berkeringat, mudah marah, merasa selalu panas, denyut jantung meningkat dan pernapasan juga meningkat per menit merupakan contoh rekatnya variabel hormon dan stres ini.

Stres bukan hanya monopoli orang dewasa. Remaja atau anak muda pun bisa terkena hal serupa. Sementara banyak orang yang tipenya cuek dan santai, namun tak sedikit pula yang tipenya mudah drop jika tertimpa masalah. Ini menjawab variabel kedua, yaitu stres dan perkembangan hormon dalam tubuh manusia. Makanya, sering orang bilang untuk menghilangkan stres olahlah tubuh(tubuh penuh dengan hormon). Cara yang juga oke adalah dengan berolahraga. Olahraga tidak hanya baik untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran.

Aktivitas fisik membuat tubuh melepaskan hormon endorfin yang bisa membuat merasa tenang dan nyaman. Selain olahraga, menghabiskan waktu dengan teman-teman juga menyenangkan.

Nonton, jalan-jalan ke mal atau makan di restoran bersama bisa membuat lebih santai sehingga stres terkendali.

Ah, saya sudah kehabisan nafas. Capai. Ditulis oleh : Teguh Triwiyanto, M.Pd
Share:

Lack of Understanding and Implementation of Attribution Theory inClassroom

Weiner’s attribution theory (1980, 1992) is probably the most influential contemporary theory with implications for academic motivation. It incorporates behaviour modification in the sense that it emphasizes the idea that learners are strongly motivated by the pleasant outcome of being able to feel good about themselves. Attribution theories of motivation describe how an individual, explains, justifies and/or excuses their own and other’s influences motivation (Woolfolk, 2004, p.354)

Bernard Weiner created the framework we use today in terms of achievement. According to Weiner, most of the causes to which students attribute their successes or failures can be characterized in terms of three dimensions: locus (location of the cause internal or external to the person), stability (whether the cause stays the same or can change), and responsibility (whether the person can control the cause).

Certain individuals in common class portray Attribution theories which are controlled in a negative light (Jessie Heath, 2007). Firstly, locus is related to an individual’s self-esteem. When a students’ learning failure is attributed to internal factors, self esteem can be diminished. Teacher doesn’t need to highlight that he or she was having difficultly with the Exposition task to the entire class, by asking one of the student’s work to others could also decrease one’s self-esteem. Another example shown in the classroom is most of the students lack a sense of self-esteem and competence. Students need a ‘re-assurance’. When a student is ‘unsure of herself’, and ‘reluctant to have a go Andrea is ‘frustrated ‘and ‘gives up easily if the work is too hard’.

Secondly, The stability dimension is related to expectations about the future. For example, when Ruth attributes her failure in a task, or subject to a stable factor such as subject difficulty, which is ‘external, stable and uncontrollable’ she is likely to presume she will fail that subject in the future. Thirdly, the controllability dimension is related to emotions. For instance when a student fails to complete task relating to Exposition text, he feels his failure is uncontrollable, and becomes aggressive, and angry. The student could feels helpless and is reluctant to attempt work he assumes he will not be able to complete tasks. Not producing any work is a major learning problem.



Must goal orientations that attainable

Goal orientations are patterns of beliefs about goals related to achievement in school. Goal orientations include the reasons we pursue goals and the standards we used to evaluate progress toward those goals (Woolfolk, 2004, p.359).

Goal setting has proven to be an effective way of ‘improving skills and striving to accomplish a task or activity’. By setting goals students are able to: - ‘direct their attention to the task at hand, mobilise effort, increase persistence and promote development of new strategies’ (Woolfolk and Margetts, 2007, p. 383). The lack of goal setting for the activity had a direct impact on the motivation of the students.

There are four main goal orientations –mastery (learning), performance (looking good), work-avoidance, and social (Murphy & Alexander, 2000; Pintrich & Schunk, 2002, as cited in Woolfolk, 2004, p.359). The main problems arisen in a classroom are the teacher is too goal oriented and the lack of goal setting for the activity had a direct impact on the motivation of the students. Firstly, teacher only wants to see the final result that the student able to go the high school with high mark. It seems that she disregard the process of learning and improving the student skills and knowledge in the classroom. She only wants a good result in reading, writing, math and other subject. Secondly, she set up the students with performance goals. The children found it difficult to relate to the subject, they misunderstand the topic and were unable to master the task; therefore students are made to look stupid and are no longer motivated to try next time.

*) Yusdi Maksum (yusdi.maksum@yahoo.com.au) The author currently studies Postgraduate Diploma in Education at The University of Newcastle Australia, graduated from University of Yogyakarta State.
Share:

Label

Artikel (14) Belajar Media Kreatif (10) Media Pengajaran Interaktif (10) Media Pengajaran Kreatif (10) Media Pengajaran Multimedia (10) Pelatihan Mencipta Media (10) Software AudioVisual (8) Tutorial Media (6) Contoh Media (5) Data Workshop Media Pengajaran (5) Hasil Penelitian Media Pengajaran (3) Tempat Kegiatan Workshop (2) Akreditasi Madrasah (1) Akreditasi Sekolah (1) Attribution Theory in Classroom (1) BIMTEK PTK (1) Belajar Kreatif Mediatama Ngajnuk (1) Belajar Kreatif Mediatama Tulungagung (1) Belajar kreatif Tuban (1) Bimbel Les Skolastik (1) Bimbel TPS SBMPTN (1) Jadwal Kegian BKM (1) Kegiatan Belajar kreatif Ngawi (1) Kegiatan Bimbtek PTK (1) Kontak Belajar Kreatif Mediatama (1) Les Baca (1) Les Calistung (1) Les TPA SBMPTN (1) Lokasi Kegiatan Belajar Kreatif (1) M.Pd (1) Media Belajar Kreatif (1) Pelatihan Media Tulungagung (1) Pembuat Media Belajar di Trenggalek (1) Pembuatan Media Negara (1) Pengajaran Efektif (1) Privat Bimbel SBMPTN (1) Psikologi daya rekat (1) Seminar Media Belajar Negara (1) Seminar Media Belajar Ngajuk (1) Seminar di Ngawi (1) Seminar di Tulungagung (1) Tempat Privat SBMPTN (1) Workshop Belajar Kreatif Negara (1) Workshop Media Belajar Ngajuk (1) Workshop Media Belajar Ngawi (1) Workshop Media Belajar Tuban (1) Workshop Media Tulungagung (1) Workshop di Trenggalek (1) Yoko Rimi (1) academic motivation (1) adblock iklan (1) akreditasi online (1) akreditasi sekolah madrasah (1) anggaran pendidikan (1) bap (1) domain internet (1) domain nama negara (1) flashblock iklan (1) ikatan sosial rakyat (1) jenis media pengajaran (1) keunggulan rsbi (1) kritik mendidik (1) kualitas pendidikan (1) kualitas rsbi (1) kurikulum pendidikan (1) major learning problem (1) media pendidikan (1) media pengajaran (1) mru (1) pendidikan dari kiritk (1) pendidikan kartini (1) pendidikan liberal (1) pendidikan rsbi (1) power tools (1) power tools lite (1) proses akreditasi online (1) recopy file (1) rsbi mahal (1) sejarah media pengajaran (1) sekolah rsbi (1) sense of completion (1) sifat media pengajaran (1) teracopy (1)

Artikel Media

GAMBAR ANIMASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

GAMBAR ANIMASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR Zulaikhah Zulaikhah   Abstract   Abstrak Media gambar animasi yang berupa fil...